Kalender Hari Libur Bursa 2024, Cek Sebelum Investasi

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan kalender perdagangan dan hari libur bursa pada 2024 seiring dengan hampir selesainya perdagangan pada 2023.

Perdagangan BEI pada pekan ini efektif tanggal 27-29 Desember 2023. Dengan demikian, besok Jumat (29/12/2023) merupakan hari terakhir bursa dalam Kalender 2023.

Direktur Utama BEI Iman Rachman dalam surat pengumumannya menyampaikan BEI sudah menetapkan Hari Libur atau Kalender Libur Bursa pada 2024. Secara total ada 240 hari perdagangan Bursa pada 2024.

Hal itu merujuk pada Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia tanggal 12 September 2023 Nomor 855 Tahun 2023, Nomor 3 Tahun 2023 dan Nomor 4 Tahun 2023 Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2024.

“Dalam rangka kegiatan penyelengaraan perdagangan di Bursa, PT Bursa Efek Indonesia menetapkan Kalender Libur Bursa Tahun 2024, yaitu jadwal yang menerangkan waktu (hari dan tanggal) peniadaan kegiatan pelaksanaan perdagangan dan penyelesaian transaksi efek di Bursa,” paparnya dalam pengumuan tertulis, dikutip Kamis (28/12/2023).

Namun demikian, perubahan Kalender Libur Bursa Tahun 2024 dapat ditetapkan kemudian apabila terjadi perubahan kegiatan kliring pada kalender operasional Bank Indonesia, atau adanya pengumuman Pemerintah mengenai perubahan hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2024.

Sejumlah hari libur seperti Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili (10 Februari 2024), Hari Paskah (31 Maret 2024), Hari Lahir Pancasila (1 Juni 2024), Tahun Baru Islam 1446 Hijriah (7 Juli 2024) dan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 2024) tidak dimasukkan ke dalam daftar kalender libur bursa di atas karena jatuh pada Hari Sabtu dan Minggu.

Berikut Data Kalender Libur Bursa pada 2024

Target Pasar Modal 2024

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan nilai penggalangan dana pada 2024 sekitar Rp175 triliun hingga Rp200 triliun. Nilai tersebut turun dibandingkan dengan realisasi pada 2023.

Target penggalangan dana melalui aksi korporasi tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor seperti Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, pertumbuhan ekonomi global, dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan pihaknya optimistis, tetapi konservatif memandang 2024 yang merupakan tahun Pemilu dengan menargetkan penghimpunan dana pada level sama seperti 2023. 

“Oleh karena itu, dalam menargetkan tahun depan, target kita adalah sama dengan tahun lalu ya, antara Rp175 triliun sampai dengan Rp200 triliun,” kata Inarno dalam Konferensi Pers RDK OJK November, Senin (4/12/2023). 

Inarno menjelaskan pandangan OJK ini mempertimbangkan prediksi IMF dan World Bank yang merevisi ke bawah target pertumbuhan ekonomi global. Ditambah pemerintah Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan lebih kecil yaitu 5,2% dibandingkan tahun ini sebesar 5,3%. 

Hingga November 2023, penghimpunan dana di pasar modal masih tinggi mencapai Rp230,59 triliun dengan 74 emiten baru tercatat hingga 30 November 2023. 

“Penghimpunan dana per November telah memenuhi target tahun 2023, sementara terdapat 96 pipeline penawaran umum dengan nilai indikatif sebesar Rp41,11 triliun, termasuk rencana IPO oleh 64 perusahaan baru,” jelas Inarno. 

Adapun di dalam pipeline sampai dengan saat ini, Inarno mengklaim 5 di antaranya memiliki nilai indikasi emisi di atas Rp500 miliar. Hal ini disebut indikasi awal untuk ancang-ancang 2024. Meski demikian gambaran ini masih harus melihat kondisi global. 

Sementara itu, untuk rata-rata nilai transaksi harian ditargetkan sebesar Rp12,25 triliun per hari. Target ini meningkat dibandingkan target RNTH 2023 yang ditetapkan di level Rp10,75 triliun. 

Hingga November 2023, RNTH meningkat menjadi Rp10,54 triliun ytd dibandingkan dengan Rp10,48 triliun pada Oktober 2023.

Sumber m.bisnis.com