Banjir Kecaman Pesawat Kepresidenan

5 bulan lalu 47
Banjir Kecaman Pesawat Kepresidenan (Ist/detik.com)

Pengecatan ulang pesawat kepresidenan Boeing 737 BBJ-2 menjadi polemik di tengah krisis pandemi COVID-19. Pasalnya, kegiatan itu membutuhkan biaya besar, sampai miliaran rupiah.

Pengamat penerbangan Alvin Lie adalah salah satu yang mengecam keputusan pemerintah dalam hal tersebut. Alvin mengatakan tidak sepantasnya pemerintah membuang biaya besar hanya untuk mengecat ulang pesawat.

Timing-nya ini tidak tepat,” kata Alvin kepada detikX pekan lalu. “Pandemi ini krisisnya multidimensional. Dampaknya ke ekonomi dan sosial.”

Eks komisioner Ombudsman RI ini menuturkan pesawat kepresidenan bukan hanya BBJ-2, tapi juga ada BAE-146. Pesawat BAE-146 sudah dicat pada 2020 awal. Tidak hanya itu, pada 2019, Alvin melanjutkan, helikopter Super Puma pun dicat. Waktu itu tidak ada yang mempermasalahkan karena Indonesia tidak dalam kondisi krisis.

Alvin mengaku tidak menyangka BBJ-2 akan mengalami pengecatan ulang. Dia mengklaim memang mengetahui pengecatan itu direncanakan sejak 2019. Namun seharusnya rencana itu tidak direalisasi tahun ini. Dia juga menegaskan, secara estetika, memang tidak masalah, tetapi pemerintah tidak punya urgensi untuk melakukan pengecatan BBJ-2 tahun ini.

“Ini, kan, ironis. Tahun lalu saja Menteri Keuangan melakukan refocusing. Semuanya disisir. Yang nggak mendesak tidak usah,” kata dia. “Kalaupun memang dianggarkan, kan, bisa tidak dibelanjakan.”

Biaya pengecatan pesawat umumnya membutuhkan biaya di kisaran USD 100-150 ribu atau Rp 1,4-2,1 miliar. Alvin menjelaskan biaya itu dibayarkan maskapai penerbangan kepada perusahaan perawatan pesawat yang melakukan pengecatan. Namun tidak jelas berapa biaya yang dibayarkan pemerintah untuk melakukan pengecatan tersebut. “Nah, berapa yang dibayarkan Sekretariat Negara? Harus transparan. Itu pakai duit rakyat,” kata dia.

Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Mardani Ali Sera menilai perawatan rutin pesawat kepresidenan merupakan keharusan. Namun pengecatan ulang pesawat tersebut pada saat ini bukanlah sesuatu yang mendesak. Kecuali jika cat pesawat sudah dalam keadaan kusam. “Rata-rata pengecatan pesawat itu 10 tahun sekali,” kata Mardani kepada detikX pekan lalu.

Warna merah pada tampilan baru tunggangan Presiden ditujukan untuk mempertegas ideologi nasionalisme. Namun, bagi Mardani, warna merah untuk pesawat kepresidenan itu justru berbahaya. Sebab, warna tersebut sangat kentara. Untuk menunjukkan nasionalisme, cukup diberi bendera Merah-Putih pada badan pesawat.

Baca Selengkapnya