Geger Pembagian Beras 'Batu' ke Warga Terdampak PPKM di Pandeglang

5 bulan lalu 46
Geger Pembagian Beras 'Batu' ke Warga Terdampak PPKM di Pandeglang (Ist/detik.com)

Pandeglang -

Penemuan beras yang kondisinya sudah menggumpal seperti batu menggegerkan warga Pandeglang, Banten. PT Pos Indonesia sebagai distributor melemparkan tanggung jawab pengadaan logistik ini kepada Perum Bulog yang disebut sebagai penyedia utama bantuan untuk masyarakat yang terdampak pemberlakuan PPKM.

Beras yang terbungkus karung bertuliskan 'Bantuan Beras PPKM 2021' dan 'Beras Bulog Medium 10 Kg' ini dibagikan pada Selasa (3/8). Saat dibuka, kondisinya sudah berwarna kuning dan penuh gumpalan yang mengeras seperti batu.

Penemuan ini sontak membuat warga yang menjadi penerima bantuan ini kecewa. Mereka yang tadinya berharap bisa mendapat bantuan saat pandemi COVID-19, malah menerima beras yang tidak layak untuk dimasak.

"Ini beras dari Bulog katanya buat bantuan PKH. Dicuci juga warnanya tetap begitu kang, enggak bisa dimakan ini mah," kata Uki, warga di Kelurahan Pandeglang, Banten yang menerima bantuan beras, saat ditemui di rumahnya, Kamis (5/8/2021).

Warga yang kecewa kemudian memutuskan untuk mengembalikan karung-karung beras 'batu' yang tak layak makan tersebut. Mereka berharap bantuan itu bisa diganti dengan beras yang lebih layak untuk dikonsumsi.

"Kita balikin ke kantor kelurahan, mudah-mudahan bisa diganti. Intinya kita kecewa kang. Masak kita dikasih beras kayak gini, ini kan enggak layak dikonsumsi buat manusia," ungkapnya.

Temuan beras 'batu' yang tak layak konsumsi ini pun menimbulkan perselisihan dan saling lempat tanggung jawab antara PT Pos dengan Perum Bulog. Bahkan, Dinas Sosial Pandeglang mengaku tak pernah dilibatkan saat proses penyaluran bantuan beras yang ditemukan menggumpal seperti batu tersebut.

Melalui Managernya Andri Maulana, PT Pos Indonesia Cabang Pandeglang menyatakan hanya bertugas sebagai pengantar bantuan logistik itu kepada warga di Pandeglang. Ia pun menyebut bantuan beras itu berasal dari Bulog.

Baca Selengkapnya