LBH Jelaskan Kronologi Polisi Todongkan Pistol-Tendang Pelajar SMP di Bone

1 minggu lalu 4
LBH Jelaskan Kronologi Polisi Todongkan Pistol-Tendang Pelajar SMP di Bone (Ist/detik.com)

Makassar -

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar mengecam kasus Bripka U, polisi koboi yang menendang dan menodongkan pistol ke kepala anak SMP di Kabupaten Bone. LBH Makassar meminta Bripka U ditindak tegas.

"Kami mengecam tindakan oknum polisi yang todong senjata api ke seorang anak di Kabupaten bone. Dalam hal ini, Polda Sulsel harus lindungi anak dan menindak tegas pelaku," kata Kadiv Sipil dan Politik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, A Haerul Karim, saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (25/11/21).

Awal Mula Penodongan

Haerul lantas menjelaskan awal mula peristiwa penodongan tersebut. Awalnya korban hendak ke rumah neneknya.

"Pada tanggal 18 November 2021, sekitar pukul 22:00 Wita anak A (13 tahun) dan anak P (12 tahun) dari desa Mamminasae ingin pergi ke rumah neneknya untuk mengambil HP di Desa Mattampa Bulu. Pada saat mengendarai motor menuju ke sana, anak A dan anak P melewati sebuah rumah kemudian berteriak 'telaso'. Anak A mengira di rumah tersebut hanya ada anak sebayanya. Namun di tempat itu pula ada seorang anggota polisi Bripka U, dan dua orang lain yakni H dan D," kata Haerul.

"Sekembalinya anak Anak A dan Anak P dari rumah neneknya di tengah jalan Anak A dan Anak P dihadang oleh Bripka U serta menyuruh mereka untuk menepi ke bahu jalan. Setelah berhenti, begitu mereka turun dari motor Bripka U lalu mengancam Anak A dengan menggunakan senjata api dan berkata, 'siapa mattelaso?' Dengan kondisi panik dan ketakutan, Anak A spontan buang air di celananya," tambah Haerul.

Haerul menuturkan, sekitar 10 meter dari tempat berhenti, korban dibawa oleh D dan H ke bengkel. Lalu menyusul Anak P dan Bripka U.

Kemudian korban disuruh duduk dan meminta maaf atas kelakuannya. Namun, Bripka U langsung menendang lutut kiri korban.

"Anak A dengan kondisi tunduk dan ketakutan sempat mendengarkan pemilik bengkel dan mencoba menghentikan perbuatan kepada Anak A dengan memberitahu kepada Bripka U, H, dan D bahwasanya Anak A adalah anak dari T (orang yang dikenal di desa). Sebelum pergi dari bengkel, Bripka U mengancam Anak A bahwa akan menghadang juga memukuli balok. Setelah itu Anak A dan Anak P pergi dan kembali ke rumah neneknya untuk mengganti celana. Setelah itu mereka kembali ke rumah tantenyanya di desa Mamminasae," ungkap Haerul.

Lihat Sumber