Teomorfisme Al-Qur'an (1)

5 bulan lalu 46
Teomorfisme Al-Qur'an (1) (Ist/detik.com)

Jakarta -

Al-Qur'an turun dari langit ke bumi guna memungut manusia yang jatuh ke bumi untuk dikembalikan ke langit. Pembumian Al-Qur'an harus mampu melangitkan manusia. Jika pembumiannya tidak mampu mengangkat kembali martabat kemanusiaan maka proses pembumian itu harus ditinjau kembali. Humanisasi nilai-nilai Al-Qur'an tidak otomatis bahkan tidak boleh diartikan antropocenrisasi Al-Qur'an, yang pada saatnya akan mencabut kesakralan nilai-nilai Al-Qur'an. Pembumian Al-Qur'an harus dimaknai dalam bentuk pendekatan antropomorfis, yang memandang manusia sebagai makhluk biologis pada satu sisi dan di sisi lain sebagai makhluk spiritual. Bukan dalam bentuk pendekatan antroposentris yang membiologi-mutlakkan manusia atau teosentris, sebuah bentuk pendekatan yang serba Tuhan, yang pada saatnya melahirkan pemikiran dehumanisasi manusia..

Antroposentrisme tidak sejalan dengan Islam. Al-Qur'an dengan tegas menyatakan manusia bukan murni sebagai makhluk biologis sebagaimana halnya hewan dan tumbuh-tumbuhan, melainkan memiliki unsur spiritual dalam bentuk ruh, sebagaimana dikatakan: Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. al-Hijr/15:29). Dalam ayat lain dipertegas lagi: Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (Q.S. Shad/38:72).

Dengan demikian, manusia tidak bisa disebut makhluk yang lebih terkesan antroposentris, namun tidak benar juga disebut makhluk teosentris. Penulis setuju dengan istilah S.H. Nasr yang menyebut manusia sebagai makhluk teomorfis. Menurut Nasr, satu-satunya makhluk Tuhan yang teomorfis ialah manusia. Teomorfisme manusia tentu saja menjadi keutamaan manusia di antara seluruh makhluk. Namun dibalik keutamaan ini manusia juga memiliki tantangan yang luar biasa.


Manusialah satu-satunya makhluk yang mau dan memiliki kemampuan mengemban amanah besar, ketika seluruh makhluk lainnya menolaknya, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat lalim dan amat bodoh". (Q.S. al-Ahdzab/33:72).

Salahsatu bentuk teomorfisme manusia ialah di dalam diririnya tergabung dua kekuatan besar, yaitu kekuatan maskulin (quwwah jalaliyah) dan kekuatan feminine (quwwah jamaliyyah), sebuah kombinasi yang tidak dimiliki makhluk lain. Kombinasi inilah yang memberi kemungkinan sekaligus kemampuan manusia untuk memikul kapasitas sebagai khalifah bumi (khalaif al-ardh). Namun menurut S.H.Nasr kombinasi ini juga menjadikan manusia sebagai makhluk eksistensialisme, yakni makhluk yang bisa turun-naik martabatnya di sisih Allah Swt. Manusia bisa menjadi makhluk termulia (ahsan taqwim/Q.S. al-Tin/95:4), tetapi manusia juga bisa menjadi makhluk paling hina (asfala safilin/Q.S. al-Tin/95:5, Q.S. al-A'raf/7:179).

Makhluk lain tidak terkecuali malaikat tidak mungkin berdosa karena tidak memiliki quwwah jalaliyyah. Mereka hanya memiliki quwwah jamaliyyah. Malaikat dan makhluk lainnya hanya bisa merepresentasikan aspek perbedaan dan ketakterbandingan (tanzih) Tuhan, tetapi tidak bisa merepresentasikan aspek keserupaan dan keterbandingan (tasybih)-Nya. Dengan kombinasi kedua kekuatan yang dimiliki, manusia mampu mencapai maqam "sintesa ketuhanan" (al-jam'yyat al-ilahiyyah).
Manusia mampu menampilkan sifat-sifat jalaliyyah disamping sifat-sifat jamaliyyah Tuhan. Tidak heran jika manusia mampu mencapai ma'rifah tingkat lebih tinggi, yaitu maqam Qaba Qausain, dan selanjutnya ke maqam Adna, sebagaimana diilustrasikan dalam ayat: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi), lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan, hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya, maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. (Q.S. Al-Najm/53:7-14).

Manusia sesungguhnya dalam fitrahnya sudah memahami dan sekaligus menyadari sepenuhnya setiap akibat atau kenyataan apapun yang menimpa dirinya merupakan konsekwensi dirinya sebagai makhluk yang menjadi locus/madhhar Allah Swt. Tidak mungkin manusia secara kolektif bersih dari dosa seperti halnya malaikat. Manusia sengaja diciptakan sebagai locus/madhhar sejumlah Nama Indah Tuhan (al-Asma' al-Husna'). Sebagi contoh, Allah Swt mempunyai nama Maha Pencipta (al-Khaliq) dan Maha Pemberi (al-Wahhab). Sulit kita bayangkan Allah Swt Maha Pencipta dan Maha Pemberi tanpa ada makhluk dan obyek yang akan menerima pemberian.

Demikian pula Allah Maha Penerima Taubat (al-Tawwab), Maha Pengampun (al-Gafur), dan Maha Pemaaf (al-'Afuw). Sulit dimengerti asma' yang demikian tanpa ada makhluk pendosa. Mungkin dari sisi ini Rasulullah pernah menjelaskan dalam hadisnya: "Seandainya semua manusia tidak ada lagi yang berdosa maka Allah Swt pasti akan menciptakan makhluk lain yang berdosa". Tanpa makhluknya yang berdosa berarti Tuhan Maha pengampun, Maha Penerima taubat, dan Maha Pemaaf hanya akan menjadi wacana tanpa bukti, sementara Allah Swt Maha Sempurna dengan segala nama dan sifat-Nya.

Baca Selengkapnya